Saturday, March 22, 2014

Sepenggal Kenangan yang Tersisa



Mungkin terlambat untuk disadari, mungkin juga terlambat untuk dipahami betapa berharganya seseorang ketika kita sudah tidak mampu lagi untuk mengucapkan kata ‘terimakasih’ di depan tubuhnya secara langsung.
Yaa...itu yang sudah berulang kali aku rasakan, kehilangan orang yang di sayangi memang terasa begitu pahit, rasanya Tuhan tidak adil mengambil mereka begitu cepat.
Tetapi, yakinkanlah hatimu bahwa segala rencana Tuhan itu ialah yang terbaik dalam hidup kita, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah dibalik itu semua. Hanya itulah yang selalu kutanamkan dalam hati, hingga perlahan lahan dapat menerima kenyataan ini.
                Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar nama teman terbaik kita itu dengan sebutan “mas”, namanya adalah mas Dito, lebih tepatnya Cornelius Sepdito Sunu Virhana. Beliau adalah mahasiswa di Universitas Sriwijaya semester VII Jurusan Teknik Elektro dan  mengikuti MPAB-MABIM tahun 2011. Sebutan Mas Dito adalah sapaan terhangat yang masih selalu kita kenang. Bagiku beliau adalah sosok yang patut diteladan karena rasa tanggung jawab yang begitu tinggi, pengorbanan dan kedewasaan yang dimilikinya.
Secara pribadi, kenangan yang disisakan dalam hidupku bersamanya terlalu berharga. Pertama kali mengenalnya ketika di siang hari di ruang DPC Sekretariat PMKRI,  tiba- tiba dia muncul di depan pintu memakai baju berwarna putih dengan senyum khasnya. Memang selama ini beliau sempat vakum hampir 2 tahun dan baru muncul kembali di siang itu. Walaupun baru sebentar saja ku mengenalnya namun bagiku untuk bekerjasama bersamanya tidaklah sulit. Akhir – akhir ini sebelum kepergiannya kami memiliki hubungan yang cukup dekat karena memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam menjalankan tugas perhimpunan. Banyak kejadian yang sempat kami alami dan tidak akan terlupakan.
Banyak tugas yang telah diselesaikannya meskipun tidak sepenuhnya selesai karena kepergiannya yang begitu mendadak. Berawal dari persiapan perayaan Misa Syukur Dies Natalis 50 PMKRI, kala itu saya bersamanya dan teman – teman yang lain sibuk mencari dana, berbagai rintangan sempat kami lalui mulai dari panasnya kota Palembang, sampai lebatnya hujanpun kami lalui hingga pada akhirnya acara dapat terlaksana dengan lancar. Selain itu banyak pula agenda yang sempat beliau lalui sebelum tiba pada hari kepergiannya. Lanjutan kegiatan setelah itu ialah RUAC (Rapat Umum Anggota Cabang), disana beliau sempat dicalonkan untuk menjadi ketua presidium, tetapi beliau mengatakan keberatan, hingga malalui proses lobbying, akhirnya beliau bersedia untuk menjadi calon ketua peresidium dan bersaing dengan beberapa calon kandidat lainnya, namun sayangnya beliau belum terpilih menjadi ketua presidium. Masih teringat sekali visi yang diungkapkannya “Saya memiliki dua tangan, satu untuk menolong diri saya sendiri dan satunya untuk membantu orang lain” tulisan singkat ini pula yang menjadi cover dalam akun twitter miliknya.
Kegiatan selanjutnya ialah persiapan penerimaan anggota baru, saya bersama beliau dan teman – teman yang lain melakukan promosi kepada calon anggota baru ke berbagai Universitas yang ada di Palembang, saat itu beliau sangat bersemangat. Namun pada akhirnya beliau belum sempat untuk melihat anggota – anggota baru di MPAB. Di sela – sela waktu sebelum MPAB kami sedang mempersiapkan pelantikan untuk pengurus DPC periode 2013-2014. Beliau yang mengkoordinir untuk menyebarkan undangan, dan mempersiapkan tempat. Ada pesan yang ditinggalkannya sebelum pada akhirnya beliau pergi untuk selama – lamanya, saat itu beliau hanya ijin untuk enam sampai tujuh hari saja, karena keadaan kesehatan beliau yang tidak memungkinkan, ingat betul siang itu saya menerima pesan singkatnya yang berbunyi “Maaf untuk enam sampai tujuh hari kedepan saya belum bisa menapakkan diri dulu, karena lagi kurang sehat dan disuruh istirahat dulu, semua urusan untuk tempat pelantikan sudah fix, aku minta tolong kamu sementara ini mengehendel undangan ya, untuk penyebarannya, nanti kalau kamu kesulitan bisa kerahkan teman-teman yang lain, aku percaya sama kamu.Terimakasih sebelumnya” itu pesan singkat yang dikirimnya siang itu. Ntah sebuah firasat atau bukan, siang itu pula saya menuliskan sebuah status di akun twitter saya yang bunyinya, “Mas ini mau pergi tapi meninggalkan tugas seabrek – abrek, saya usahakan tapi untuk 2 hari kedepan saya baru bisa bergerak”, dan ntah sebuah kebetulan atau bukan, beliau menjadikan twit saya itu sebagai favorit, seolah kata – kata tersebut memang untuk yang terakhir kali dan tidak akan terulang kembali sehingga perlu diabadikan.
Dan memang tidak ada yang menyangka bahwa pesan itu adalah pesan terakhirnya sebelum beliau pergi untuk selama – lamanya. Keesokan harinya, memang tidak ada kabar beritanya tentang keberadaan mas Dito, sampai tiba kala itu di sore hari...Saya mendapat telepon dari salah satu anggota PMKRI yang secara terbata – bata memberikan berita yang kurang baik. Saat itu saya tidak percaya dan menganggapnya sebuah candaan yang tidak lucu, namun ternyata tidak hanya satu orang saja yang memberikan berita duka tersebut tetapi banyak sekali teman – teman anggota PMKRI lain yang terus menghubungi saya, hingga pada akhirnya saya harus mempercayai bahwa berita itu adalah benar, saat itu juga saya pergi untuk melihatnya secara langsung dan tanpa di duga sudah banyak sekali teman – teman anggota PMKRI yang sudah berada di kediamannya, yaa....saat itu kami semua berkabung, tidak ada yang menyangka kepergiannya yang secepat itu tanpa ada penyebab sebelumnya. Inilah untuk pertama kalinya, tanpa di duga bahwa seluruh anggota PMKRI cabang Palembang dapat hadir untuk ikut berbela sungkawa akan kepergiaan teman, sahabat, saudara, juga kakak bagi kami. PMKRI cabang Palembang berduka. Untuk terakhir kalinya yang dapat kami lakukan sebagai ucapan terimakasih kami untuk pengorbanan dan perjuangannya selama pengabdiannya untuk PMKRI cabang Palembang, kami semua menghantarkan sampai pada tempat peristirahatan terakhir. Semua benih yang ditanamnya selama ini kini  dapat dituai.
Dan saat itulah, kita disadarkan bahwa hidup kita tidak ada yang tau kapan tibanya kita harus menghadap Bapa di surga, maka dari itu selagi masih ada kesempatan bagi kita untuk dapat menikmati kehidupan ini, mari kita melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.