Mungkin terlambat untuk disadari, mungkin juga terlambat
untuk dipahami betapa berharganya seseorang ketika kita sudah tidak mampu lagi
untuk mengucapkan kata ‘terimakasih’ di depan tubuhnya secara langsung.
Yaa...itu yang sudah berulang kali aku rasakan, kehilangan
orang yang di sayangi memang terasa begitu pahit, rasanya Tuhan tidak adil
mengambil mereka begitu cepat.
Tetapi, yakinkanlah hatimu bahwa segala rencana Tuhan itu
ialah yang terbaik dalam hidup kita, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih
indah dibalik itu semua. Hanya itulah yang selalu kutanamkan dalam hati, hingga
perlahan lahan dapat menerima kenyataan ini.
Mungkin
sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar nama teman terbaik kita itu dengan
sebutan “mas”, namanya adalah mas Dito, lebih tepatnya Cornelius Sepdito Sunu
Virhana. Beliau adalah mahasiswa di Universitas Sriwijaya semester VII Jurusan
Teknik Elektro dan mengikuti MPAB-MABIM
tahun 2011. Sebutan Mas Dito adalah sapaan terhangat yang masih selalu kita
kenang. Bagiku beliau adalah sosok yang patut diteladan karena rasa tanggung
jawab yang begitu tinggi, pengorbanan dan kedewasaan yang dimilikinya.
Secara pribadi, kenangan yang
disisakan dalam hidupku bersamanya terlalu berharga. Pertama kali mengenalnya
ketika di siang hari di ruang DPC Sekretariat PMKRI, tiba- tiba dia muncul di depan pintu memakai
baju berwarna putih dengan senyum khasnya. Memang selama ini beliau sempat
vakum hampir 2 tahun dan baru muncul kembali di siang itu. Walaupun baru
sebentar saja ku mengenalnya namun bagiku untuk bekerjasama bersamanya tidaklah
sulit. Akhir – akhir ini sebelum kepergiannya kami memiliki hubungan yang cukup
dekat karena memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam menjalankan
tugas perhimpunan. Banyak kejadian yang sempat kami alami dan tidak akan terlupakan.
Banyak tugas yang telah
diselesaikannya meskipun tidak sepenuhnya selesai karena kepergiannya yang
begitu mendadak. Berawal dari persiapan perayaan Misa Syukur Dies Natalis 50
PMKRI, kala itu saya bersamanya dan teman – teman yang lain sibuk mencari dana,
berbagai rintangan sempat kami lalui mulai dari panasnya kota Palembang, sampai
lebatnya hujanpun kami lalui hingga pada akhirnya acara dapat terlaksana dengan
lancar. Selain itu banyak pula agenda yang sempat beliau lalui sebelum tiba
pada hari kepergiannya. Lanjutan kegiatan setelah itu ialah RUAC (Rapat Umum
Anggota Cabang), disana beliau sempat dicalonkan untuk menjadi ketua presidium,
tetapi beliau mengatakan keberatan, hingga malalui proses lobbying, akhirnya beliau bersedia untuk menjadi calon ketua
peresidium dan bersaing dengan beberapa calon kandidat lainnya, namun sayangnya
beliau belum terpilih menjadi ketua presidium. Masih teringat sekali visi yang
diungkapkannya “Saya memiliki dua tangan, satu untuk menolong diri saya sendiri
dan satunya untuk membantu orang lain” tulisan singkat ini pula yang menjadi cover dalam akun twitter miliknya.
Kegiatan selanjutnya ialah
persiapan penerimaan anggota baru, saya bersama beliau dan teman – teman yang
lain melakukan promosi kepada calon anggota baru ke berbagai Universitas yang
ada di Palembang, saat itu beliau sangat bersemangat. Namun pada akhirnya
beliau belum sempat untuk melihat anggota – anggota baru di MPAB. Di sela –
sela waktu sebelum MPAB kami sedang mempersiapkan pelantikan untuk pengurus DPC
periode 2013-2014. Beliau yang mengkoordinir untuk menyebarkan undangan, dan
mempersiapkan tempat. Ada pesan yang ditinggalkannya sebelum pada akhirnya
beliau pergi untuk selama – lamanya, saat itu beliau hanya ijin untuk enam
sampai tujuh hari saja, karena keadaan kesehatan beliau yang tidak
memungkinkan, ingat betul siang itu saya menerima pesan singkatnya yang
berbunyi “Maaf untuk enam sampai tujuh hari kedepan saya belum bisa menapakkan
diri dulu, karena lagi kurang sehat dan disuruh istirahat dulu, semua urusan
untuk tempat pelantikan sudah fix, aku minta tolong kamu sementara ini mengehendel
undangan ya, untuk penyebarannya, nanti kalau kamu kesulitan bisa kerahkan
teman-teman yang lain, aku percaya sama kamu.Terimakasih sebelumnya” itu pesan
singkat yang dikirimnya siang itu. Ntah sebuah firasat atau bukan, siang itu
pula saya menuliskan sebuah status di akun twitter saya yang bunyinya, “Mas ini
mau pergi tapi meninggalkan tugas seabrek – abrek, saya usahakan tapi untuk 2
hari kedepan saya baru bisa bergerak”, dan ntah sebuah kebetulan atau bukan,
beliau menjadikan twit saya itu sebagai favorit, seolah kata – kata tersebut
memang untuk yang terakhir kali dan tidak akan terulang kembali sehingga perlu
diabadikan.
Dan memang tidak ada yang
menyangka bahwa pesan itu adalah pesan terakhirnya sebelum beliau pergi untuk
selama – lamanya. Keesokan harinya, memang tidak ada kabar beritanya tentang
keberadaan mas Dito, sampai tiba kala itu di sore hari...Saya mendapat telepon
dari salah satu anggota PMKRI yang secara terbata – bata memberikan berita yang
kurang baik. Saat itu saya tidak percaya dan menganggapnya sebuah candaan yang
tidak lucu, namun ternyata tidak hanya satu orang saja yang memberikan berita duka
tersebut tetapi banyak sekali teman – teman anggota PMKRI lain yang terus
menghubungi saya, hingga pada akhirnya saya harus mempercayai bahwa berita itu
adalah benar, saat itu juga saya pergi untuk melihatnya secara langsung dan
tanpa di duga sudah banyak sekali teman – teman anggota PMKRI yang sudah berada
di kediamannya, yaa....saat itu kami semua berkabung, tidak ada yang menyangka
kepergiannya yang secepat itu tanpa ada penyebab sebelumnya. Inilah untuk
pertama kalinya, tanpa di duga bahwa seluruh anggota PMKRI cabang Palembang
dapat hadir untuk ikut berbela sungkawa akan kepergiaan teman, sahabat,
saudara, juga kakak bagi kami. PMKRI cabang Palembang berduka. Untuk terakhir
kalinya yang dapat kami lakukan sebagai ucapan terimakasih kami untuk pengorbanan
dan perjuangannya selama pengabdiannya untuk PMKRI cabang Palembang, kami semua
menghantarkan sampai pada tempat peristirahatan terakhir. Semua benih yang
ditanamnya selama ini kini dapat dituai.
Dan saat itulah, kita disadarkan
bahwa hidup kita tidak ada yang tau kapan tibanya kita harus menghadap Bapa di
surga, maka dari itu selagi masih ada kesempatan bagi kita untuk dapat
menikmati kehidupan ini, mari kita melakukan yang terbaik yang bisa kita
lakukan.



